“SIFAT – SIFAT KHAS KEPRIBADIAN”

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A. LATARBELAKANG

Pembahasan tentang perilaku manusia dapat dijelaskan dengan lebih tepat apabila kita mulai membahas mengenai kepribadian manusia. Berbagai teori yang ada mengenai kepribadian dikembangkan dari  berbagai pemahaman dasar yang berbeda-beda tentang manusia. Sehingga tidak jarang kita jumpai bahwa begitu banyak aliran teori kepribadian yang berusaha menjelaskan mengenai kepribadian tetapi berdasarkan pembahasan yang bermacam-macam. Perbedaan ini pada dasarnya merupakan kekayaan pengetahuan, sehingga banyaknya teori mengenai kepribadian tidak harus membuat kita menjadi ragu dan bingung. Mungkin dalam pikiran kita akan bertanya, bagaimana suatu objek yang sama (yaitu manusia) dijelaskan secara berbeda-beda?, apakah tidak bisa cukup satu teori sehingga yang lain adalah teori yang salah?.

Pada prinsipnya kita harus fahami bahwa pemahaman tentang manusia tidaklah sederhana, manusia merupakan makhluk Tuhan yang sangat kompleks (rumit) sehingga tidak akan cukup satu teori akan menjelaskan keseluruhan manusia denga sangat  lengkap, oleh karena itu banyaknya teori pada dasarnya bertujuan untuk memberikan penjelasan yang lebih memadai tentang manusia, kekurangan dari salah satu teori dapat dijelaskan dalam teori yang lain. Hal ini berarti bahwa tidak ada teori yang salah, sehingga tidak perlu lagi dipakai.

  1. B. RUMUSAN MASALAH
    1. Jelaskan defenisi dari kepribadian?
    2. Jelaskan defenisi dari tipologi kepribadian?
    3. Jelaskan sifat-sifat khas kepribadian manusia?
    4. Sebutkan dan jelaskan beberapa teori tipologi kepribadian?
    5. Jelaskan beberapa teori kepribadian yang memakai cara pendekatan lain?
  1. C. TUJUAN PENULISAN
  2. Untuk mengetahui tentang defenisi dari kepribadian.
  3. Untuk mengetahui tentang defenisi dari tipologi kepribadian.
  4. Untuk mengetahui tentang sifat-sifat khas kepribadian manusia.
  5. Untuk mengetahui tentang beberapa teori tipologi kepribadian.
  6. Untuk mengetahui tentang beberapa teori kepribadian yang memakai cara pendekatan lain.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A. DEFENISI KEPRIBADIAN

Kepribadian itu memiliki banyak arti, bahkan saking banyaknya boleh dikatakan jumlah definisi dan arti dari kepribadian adalah sejumlah orang yang menafsirkannya. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan dalam penyusunan teori, penelitian dan pengukurannya.

Personality atau kepribadian berasal dari kata persona, kata persona merujuk pada topeng yang biasa digunakan para pemain sandiwara di Zaman Romawi. Secara umum kepribadian menunjuk pada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu-individu lainnya. Pada dasarnya definisi dari kepribadian secara umum ini adalah lemah karena hanya menilai perilaku yang dapat diamati saja dan tidak mengabaikan kemungkinan bahwa ciri-ciri ini bisa berubah tergantung pada situasi sekitarnya selain itu definisi ini disebut lemah karena sifatnya yang bersifat evaluatif (menilai), bagaimanapun pada dasarnya kepribadian itu tidak dapat dinilai “baik” atau “buruk” karena bersifat netral.

Untuk menjelaskan kepribadian menurut psikologi saya akan menggunakan teori dari George Kelly yang memandang bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Sementara Gordon Allport merumuskan kepribadian sebagai “sesuatu” yang terdapat dalam diri individu yang membimbing dan memberi arah kepada seluruh tingkah laku individu yang bersangkutan.

Lebih detail tentang definisi kepribadian menurut Allport yaitu kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pikiran individu secara khas.

  1. B. DEFENISI TIPOLOGI KEPRIBADIAN

Tipologi Kepribadian yang tahan uji dan lama sekali mempengaruhi para ahli dalam bidang tipologi adalah tipologi yang dimulai oleh Hippocrates yang kemudian disempurnakan oleh Galenus.

Tipologi kepribadian merupakan cara awal menentukan kepribadian dengan mengklasifikasikannya menurut tipologi-tipologi kepribadian awal. Walaupun sekarang, pengklasifikasian ini, tidak dapat dibuktikan secara ilmih, tetapi sangat besar pengaruhnya dalam menuntun perkembangan psikologi dikemudian hari. Bahkan banyak istilah-istilah pada masa itu masih dipakai hingga sekarang.

Dari berbagai pandangan / teori tentang kepribadian ini, berkembanglah berbagai teori tentang tipologi / tipe kepribadian.

Tipologi semacam ini adalah usaha untuk menggambarkan kepribadian manusia dengan melakukan kategorisasi dan penyederhanaan terhadap berbagai kemungkinan kombinasi kepribadian. Karena salah satu sifatnya adalah penyederhanaan, maka apapun tipologi kepribadian sebenarnya tidak mampu untuk menggambarkan seluruh kemungkinan kepribadian.

Namun, dengan tetap berpegang pada pemahaman bahwa setiap manusia itu unik, tipologi kepribadian bagaimanapun dapat membantu siapapun untuk lebih memahami kepribadian diri maupun orang lain.

  1. C. SIFAT-SIFAT KHAS KEPRIBADIAN MANUSIA

Berpangkal pada kenyataan bahwa kepribadian manusia itu sangat bermacam-macam sekali, mungkin sama banyaknya dengan banyaknya orang, segolongan ahli berusaha menggolong-golongkan manusia ke dalam tipe-tipe tertentu, karena mereka berpendapat bahwa cara itulah paling efektif untuk mengenal sesama manusia dengan baik. Pada sisi lain, sekelompok ahli berpendapat, bahwa cara bekerja seperti dikemukakan di atas itu tidak memenuhi tujuan psikologi kepribadian, yaitu mengenal sesama manusia menurut apa adanya, menurut sifat-sifatnya yang khas, karena dengan penggolongan ke dalam tipe-tipe itu orang justru menyembunyikan kekhususan sifat-sifat seseorang.

  1. D. TEORI TIPOLOGI
    1. 1. Teori Hippocrates – Gelenus

Terpengaruh oleh Kosmologi Empedokles, yang menganggap bahwa alam semesta beserta isinya ini tersusun atas empat unsur pokok, yaitu tanah, air, udara, dan api, yang masing-masing mendukung sifat tertentu, yaitu tanah mendukung sifat kering, air mendukung sifat basah, udara mendukung sifat dingin dan api mendukung sifat panas, maka Hippocrates (460 – 370) berpendapat, bahwa juga di dalam tubuh manusia terdapat sifat-sifat tersebut yang didukung oleh cairan-cairan yang ada di dalam tubuh, yaitu :

  • Sifat kering didukung oleh Cholc,
  • Sifat basah didukung oleh Melannchole,
  • Sifat dingin didukung oleh Phlegma, dan
  • Sifat panas didukung oleh Sanguis.

Hippocrates Galenus berpendapat, bahwa di dalam tubuh manusia terdapat empat macam cairan pokok, yaitu chole, melanchole, phlegma, dan sanguis. Sifat kejiwaan tertentu yang khas ini, yang adanya tergantung kepada dominasi cairan dalam tubuh itu oleh Gelenus disebut temperamental.

  1. 2. Tipologi Mazhab Italia dan Mazhab Perancis
    1. a. Tipologi Mazhab Italia

Berdasarkan atas data-data yang di peroleh oleh DeGiovani, serta hukum deformasi yang dirumuskan oleh DeGiovani,Viola dalam penyelidikan-penyelidikannya menemukan, bahwa ada tiga macam tipe manusia berdasarkan atas keadaan tubuhnya, yaitu :

(1)   Microsplanchnis : ukuran-ukuran menegak relatif dominant, sehingga orangnya kelihatan tinggi jangkung.

(2)   Macrosplanchnis : ukuran-ukuran mendatarnya relatif dominant, sehingga orangnya kelihatan pendek gemuk.

(3)   Normosplanchnis : ukuran-ukuran menegak dan mendatar seimbang, sehingga orang kelihatan seimbang. Bermacam-macam bentuk tubuh yang demikian itu beralas pada keturunan.

  1. b. Tipologi Mazhab Perancis

Mazhab Perancis yang dipimpin oleh Sigaud berpendapat, bahwa keadaan serta bentuk tubuh manusia serta kelainan-kelainannya itu pada pokoknya ditentukan oleh sekitar atau lingkungan. Yaitu :

(1)   Ada lingkungan yang berwujud udara yang menjadi sumber reaksi respiratoris.

(2)   Ada sekitar yang berwujud makan-makanan yang menjadi sumber reaksi-reaksi digestif.

(3)   Ada lingkungan yang berwujud keadaan-keadaan alam yang menjadi sumber reaksi-reaksi muskuler.

(4)   Ada lingkungan yang berwujud keadaan sosial yang menimbulkan reaksi-reaksi cerebral.

  1. 3. Tipologi Kretschmer
    1. a. Tipe-tipe manusia menurut keadaan jasmaninya

Kretschmer menggolong-golongkan atas dasar bentuk tubuhnya menjadi empat :

1)        Tipe piknis:

Sifat-sifat khas tipe ini ialah :

  • Badan agak pendek,
  • Dada membulat, perut besar, bahu tidak lebar
  • Leher pendek dan kuat
  • Lengan dan kaki lemah
  • Kepala agak “merosot” ke muka diantara keuda bahu, sehingga bagian atas dari tulang punggung kelihatan sedikit melengkung
  • Banyak lemak, sehingga urat-urat dan tulang-tulang tak kelihatan nyata.

Tipe ini memperoleh bentuknya yang nyata setelah orang berumur 40 tahun.

2)        Tipe Leptosom

Orang yang bertipe leptosom ukuran-ukuran menegaknya lebih dari keadaan biasa, sehingga orangnya kelihatan tinggi jangkung, sifat-sifat khas tipe ini ialah:

  • badan langsing/kurus, jangkung,
  • rongga dada kecil-sempit-pipih, rusuknya mudah hitung,
  • perut kecil, bahu sempit,
  • lengan dan kaki lurus,
  • tengkorak agak kecil, tulang-tulang di bagian muka kelihatan jelas,
  • muka bulat telur,
  • berat relatif kurang,

3)      Tipe Atletis

Pada orang yang bertipe atletis ukuran-ukuran tubuh yang menegak dan mendatar dalam perbandingan yang seimbang, sehingga tubuh kelihatan selaras; tipe mini dapat dipandang sebagai sintesis dari tipe piknis dan tipe leptoson. Sifat-sifat khas tipe ini ialah:

  • tulang-tulang serta otot dan kulit kuat,
  • badan kokoh dan tegap,
  • tinggi cukupan,
  • bahu lebar dan kuat,
  • perut kuat,
  • panggul dan kaki kuat, dalam perbandingan dengan bahu dan kelihatan agak kecil,
  • tengkorak cukup besar dan kuat, kepala dan leher tegak,
  • muka bulat telur, lebih pendek dari tipe lepsotom

4)      Tipe Displatis

Tipe ini merupakan penyimpangan dari ketiga tipe yang telah dikemukakan itu, tidak dapat dimasukan ke dalam salah satu diantara ketiga tipe itu, karena tidak memiliki ciri-ciri yang khas menurut tipe-tipe tersebut. Bermacam-macam bagian yang seolah-olah bertentangan satu sama lain ada bersama-sama. Kretschmer sendiri menganggap tipe displastis ini menyimpang dari kosntitusi normal.

  1. b. Tipe-Tipe Manusia Menurut Temperamennya

1)        Tipe schizothym

Orang yang bertemperament schizothym, sifat-sifat jiwanya bersesuaian dengan para penderita schizoprenia, hanya sangat tidak jelas, ada kecenderungan ke arah autisme: menutup diri sendiri, hidup dengan dirinya sendiri

2)      Tipe cyklothym

Orang yang bertemperament cyklothym, sifat-sifat jiwanya bersesuain dengan para penderita manisdefresif, hanya sangat tidak jelas. Golongan ini juga mudah untuk ikut merasakan suka dan duka orang lain

  1. c. Hubungan Antara Keadaan Jasmani Dan Temperament

1)      Orang yang konstitusi piknis kebanyakan bertemperament cyklothym, atau orang-orang yang bertemperament cyklothym kebanyakan berkonstiusi piknis.

2)      Orang-orang yang berkonstitusi leptosom, atletis, dan displastis kebanyakan bertemperament schizothyum, atau orang-orang yang bertemperament schizothym kebanyakan berkonstitusi leptosom, atau atletis atau displastis.

  1. 4. Teori Sheldon

Sheldon menggambarkan kepribadian manusia itu sebagai terdiri dari komponen-komponen.

  1. Komponen Kejasmanian

1)      Komponeen-komponeen kejasmanian primer, yang terdiri dari :

a)      Endomorphy

Orang yang komponen endomorphynya tinggi sedang kedua komponen lainnya rendah ditandai oleh: lembut, gemuk, berat badan relatif kurang.

b)      Mesomorphy

Orang yang bertipe mesomorphy komponen mesomorphnya tinggi sedang komponene yang lain lagi rendah; otot-otot dominant, pembuluh-pembuluh darah kuat, jantung juga dominan, orang bertipe ini tampak: kokoh, keras, otot kelihatan bersegi-segi, tahan sakit.

c)      Ectomorphy

Orang-orang yang termasuk pada golongan tipe ini organ-organ mereka berasal dari ectoderm yang terutama berkembang yaitu; kulit, sistem syaraf, dengan ciri-cir: jangkung, dada pipih, lemah, otot-otot hampir tidak nampak berkembang.

2)      Komponen kejasmanian sekunder, yang terdiri dari :

a)      Dysplasia

Dengan meminjam istilah dari Kretchmer istilah itu dipakai oleh Sheldon untuk menunjukan setiap ketidak tepatan dan ketidak-lengkapan campuran ketiga komponen primer itu pada berbagai daerah dari pada tubuh.

b)      Gynandromorphy

Gynandromorphy itu menunjukan sejauhmana jasmani memiliki sifat-sifat yang biasanya terdapat pada jenis kelamin lawannya. Komponen ini oleh Sheldon dinyatakan dengan huruf “g” jadi orang laki-laki yang memiliki komponen “g” tinggi akan memiliki tubuh yang lembut, panggul besar, dan sifat-sifat wanita yang lain. Seseorang yang memiliki komponen “g” ini maksimal adalah banci.

c)      Texture

Ialah komponen yang menunjukan bagaimana orang itu nampaknya keluar.

  1. Komponen-Komponen Temperament

Komponen-komponen temperament ini terdiri pula atas tiga komponen yaitu:

1)      Tipe viscerotonis

Sifat-sifat orang yang bertipe viscerotonis itu ialah:

  • Sikap tidak tegang (relaxed),
  • Suka akan hiburan,
  • Gemar makan-makan,
  • Besar kebutuhan akan resonansi orang lain,
  • Tidurnya nyenyak,
  • Bila mengadapi kesukaran membutuhkan orang lain.

2)      Tipe somatotonis

Sifat-sifat temperament somatotonis ini ialah:

  • Sikapnya gagah,
  • Perkasa (energetic),
  • Kebutuhan bergerak besar,
  • Suka terus terang,
  • Suara lantang,
  • Nampaknya lebih dewasa dari yang sebenarnya,
  • Bila menghadapi kesukaran-kesukaran butuh melakukan gerakan-gerakan.

3)      Tipe celebrotonis

Sifat-sifat orang yang bertipe cerebrotonis itu adalah:

  • Sikapnya kurang gagah, ragu-ragu,
  • Reaksinya cepat,
  • Kurang berani bergaul dengan orang banyak (ada sociopobia),
  • Kurang berani berbicara di depan orang banyak,
  • Kebiasaan-kebiasaannya tetap, hidup teratur,
  • Suara kurang bebas,
  • Tidur kurang nyenyak (sukar),
  • Nampaknya lebih muda dari yang sebenarnya,
  • Kalau menghadapi kesukaran butuh mengasingkan diri.
  1. Komponen-komponen psikiatris, yang terdiri atas:

1)      Affective

Yang bentuknya ekstrim terdapat pada para penderita psikosis jenis manis defresif.

2)      Paranoid

Yaitu banyak angan-angan, fikiran, gambaran-gambaran yang sangat jauh dari kenyataan.

3)      Heboid

Yaitu bentuk ekstrimnya terdapat pada pra penderita hebehrenia, yaitu suatu bentuk dari pada schzoprenia (a sosial, anti sosial).

  1. 5. Beberapa Tipologi Yang Berdasarkan Keadaan Kejiwaan Semata-Mata
    1. Tipologi Plato

Plato membedakan adanya tiga bagian jiwa, yaitu:

1)      Fikiran (logos) yang berkedudukan di kepala,

2)      Kemauan (thumos) yang berkedudukan di dada,

3)      Hasrat (epithumid) yang berkedudukan di perut.

  1. Tipologi Queyrat

Queyrat menyusun tipologi atas dasar dominasi daya-daya jiwa, daya-daya kognitif, afektif, dan konatif.

1)      Salah satu daya yang dominant

a)      Tipe mediatif, atau intelektual, dimana daya kognitif dominan,

b)      Tipe emosional, di mana daya efektif dominant,

c)      Tipe aktif, daya konatif dominant.

2)      Dua daya dominant

a)      Tipe mediatif emosional atau daya kognitif atau afektif dominant,

b)      Tipe aktif emosional atau garang: daya konatif dan afektif dominant,

c)      Tipe aktif-mediatif: daya konatif dan kognitif dominant

3)      Ketiga daya itu ada dalam proporsi yang seimbang:

a)      Tipe seimbang,

b)      Tipe amproph,

c)      Tipe aphatis

4)      Ketiga daya itu ada atau berfungsi secara tak menentu:

a)      Tipe tak stabil,

b)      Tipe tak teguh hati,

c)      Tipe kontraktroris

5)      Ada tiga macam tipe yang tidak sehat, yaitu:

a)      Tipe hypochonolis,

b)      Tipe melancholis,

c)      Tipe hysteris.

  1. Tipologi Malapert

1)      Tipe intelektual, yang terdiri atas:

a)      Golongan analitis,

b)      Golongan reflektif

2)      Tipe afektif, yang terdidi atas:

a)      Golongan emosional,

b)      Golongan bernafsu

3)      Tipe voulenter, yang terdiri atas:

a)      Golongan tanpa kemauan,

b)      Golongan besar kemauan,

4)      Tipe aktif, yang terdiri atas:

a)      Golongan tak aktif,

b)      Golongan aktif

  1. 6. Tipologi Heymans

a)      Emosionalitas (emosionaliteit), yaitu mudah tidaknya perasaan orang terpengaruh oleh sesuatu kesan.

b)      Proses pengiring, yaitu banyak sedikitnya pengaruh kesan-kesan terhadap kesadaran.

c)      Aktivitas (activiet), yaitu sedikitnya orang menyatakan diri, menjelmakan perasaannya dan fikiran-fikirannya dalam tindakan yang spontan.

d)     Golongan yang aktif, yaitu golongan yang karena alasan yang lemah saja telah berbuat.

e)      Golongan yang tidak aktif yaitu golongan yang walaupun ada alasan-alasan yang kuat belum juga mau bertindak.

  1. 7. Tipologi Spranger

a)      Dua macam rohk (Geist)

Pertama-tama spranger membedakan adanya dua macam rokh (Geist), yaitu:

1)      Rokh subjektif atau rokh individual, yaitu rokh yang terdapat pada manusia masing-masing (individu).

2)      Rokh objektif atau rokh supra individual, yaitu rokh seluruh umat manusia, yang dalam keadaan konkritnya merupakan kebudayaan yang telah terjelma selama berabad-abad.

b)      Hubungan antara rokh subjektif dan rokh objektif

Rokh subjektif dan objektif itu berhubungan secara timbal balik. Rokh subjektif atau roh individual, yang mengandung nilai-nilai yang terdapat pada masing-masing individu, dibentuk dan dipupuk dengan rokh objektif, artinya rokh subjektif tersebut berbentuk dan berkembang dengan memakai rokh objektif sebagai norma.

c)      Lapangan-lapangan hidup

Kebudayaan oleh Spranger dipandang sebagai sistem nilai-nilai, karena kebudayaan itu tidak lain adalah kumpulan nilai-nilai kebudayaan yang tersusun menurut sistem atau struktur tertentu.

1)      Lapangan pengetahuan (ilmu, teori),

2)      Lapangan ekonomi,

3)      Lapangan kesenian,

4)      Lapangan keagamaan,

5)      Lapangan kemasyarakatan,

6)      Lapanagan politik.

d)     Enam Tipe Manusia

Spranger menggolongkan manusia menjadi 6 tipe :

1)      Manusia teori,

2)      Manusia ekonomi,

3)      Manusia estetis,

4)      Manusia agama,

5)      Manusia sosial,

6)      Manusia kuasa.

  1. E. BEBERAPA TEORI KEPRIBADIAN YANG MEMAKAI
    CARA PENDEKATAN LAIN
     

    1. 1. Psikoanalisis Teori Sigmund Freud
      1. Struktur Kepribadian

Menurut Freud kepribadian itu sendiri atas tiga sistem atau aspek, yaitu:

1)      Das Es (the id), yaitu aspek biologis

Das Es atau aspek biologis daripada kepribadian ini adalah aspek orisinal. Untuk menghilangkan ketidak-enakan itu das es mempunyai dua macam cara, yaitu:

(a)    Refleks dan reaksi –rekasi otomastis, seperti misalnya bersin, berkedip, dan sebagainya,

(b)   Proses primer, seperti misalnya kalau orang lapar lalau membayangkan makanan.

2)      Das Ich (the ego), yaitu aspek psikologis

Das Ich atau aspek psikologis daripada kepribadian timbul dari ke butuhan organisme untuk dapat berhubungan dengan dunia luar secara realistis.

3)      Das Ueber Ich (the super ego), yaitu aspek sosiologis

Das ueber Ich atau aspek sosiologis pribadi ini merupakan wakil nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat sebagaimana ditafsirkan orang tua kepada anak-anaknya, yang diajarkan (dimasukan) dengan berbagai perintah larangan .

  1. Dinamika kepribadian

Menurut Freud di dalam diri kita ini ada dua macam (lebih tepatnya dua kelompok) instink-instink, yaitu:

1)      Instink-instink hidup

Fungsi instink hidup adalah melayani maksud individu untuk tetap hidup dan memeperpanjang ras.

2)      instink-instink mati

Instink mati ini, yang disebut juga instink merusak (destruktif) berfungsinya kurang jelas jika dibandingkan dengan instink-instink hidup, karena itu juga dikenal. Namun adalah suatu kenyataan yang tak dapat diingkari, bahwa manusia itu pada akhir-akhirnya mati juga. Inilah yang menyebabkan Freud merumuskan, bahwa “Tujuan semua hidup adalah mati”. Suatu penjelmaan dari pada instink mati ini ialah dorongan agresif.

  1. Perkembangan Kepribadian

Adapun sumber tegangan pokok ialah:

1)      proses pertumbuhan fisologis,

2)      frustasi,

3)      konflik,

4)      ancaman.

Beberapa bentuk mekanisme pertahanan itu, yang popular antara lain:

1)      Proyeksi

Proyeksi adalah secara begitu saja (tidak sadar, mekanisme) menempatkan sifat-sifat batin sendiri pada objek di luar diri, sehingga sifat-sifat batin sendiri itu diamati atau dihayati sebagai sifat-sifat orang lain atau sifat-sifat benda di luar dirinya.

2)      Fiksasi

Fiksasi adalah berhenti pada suatu fase perkembangan tertentu yang seharusnya sudah ditinggalkan, karena melangkah ke fase yang lebih lanjut itu menimbulkan ketakutan atau rasa tidak enak.

3)      Regresi

Isolasi adalah kembali lagi ke fase yang telah pernah ditinggalkannya, karena menghadapi situasi yang baginya mengandung bahaya.

4)      Isolasi

Isolasi adalah menyisihkan (mengisolir) sesuatu dan menganggapnya sebagai hal yang tidak penting.

5)      Rasionalisai

Rasionalisasi adalah memberikan alasan rasional kepada sesuatu kejadian, sehingga kejadian yang jika sekiranya tanpa alasan yang demikian itu baginya akan menimbulkan ketidak-enakan.

6)      Transkulpasi

Transkulpasi adalah mengkambinghitamkan pihak lain, walaupun diri sendiri sebenarnya membuat kesalahan.

  1. 2. Psikologi Analitis, Teori carl Gustawjung

Menurut Jung kepribadian itu terdiri dari dua alam yaitu:

(a)    Alam sadar (kesadaran), yang berfungsi mengadakan penyesuaian terhadap dunia luar, dan

(b)   Alam tak sadar (ketidak sadaran), yang berfungsi mengadakan penyesuaian terhadap dunia dalam yaitu dunia batin sendiri.

  1. Struktur kesadaran

1)      Fungsi jiwa

Dominasi fungsi jiwa itu menurut Jung ada empat macam tipe manusia, yaitu:

(a)    Tipe pemikir,

(b)   Tipe perasa,

(c)    Tipe pendria,

(d)   Tipe intuitif

2)      Sikap jiwa

Yang dimaksud dengan sikap jiwa ialah arah daripada energi psikis umum atau libido, yang menjelma dalam orientasi manusia terhadap dunianya.

3)      Persona

Persona oleh Jung ialah cara seseorang dengan sadar menampakan diri ke luar.

  1. Struktur ketidaksadaran

1)      Ketidaksadaran pribadi, yaitu bagian daripada alam ketidaksadaran yang diperoleh individu selama sejarah hidupnya, pengalamannya pribadi.

2)      Ketidaksadaran kolektif Adalah bagian dari pada ketidaksadaran itu diperoleh oleh individu dari warisan nenek moyangnya, yaitu hal-hal yang diperoleh manusia (sebagai jensi) di dalam perkembangannya.

  1. 3. Individual Psychologic Teori Alfred Adler
    1. Individualitas sebagai pokok persoalan

Adler memberi tekanan kepada pentingnya sifat khas (unik) daripada kepribadian, yaitu individualitas, kebulatan serta sifat-sifat khas pribadi manusia.

  1. Pandangan teleogis

Adler sangat terpengaruh oleh “filsaat seakan-akan” yang dirumuskan oleh Hans Vaihinger dalam bukunya yang berjudul Die Philosophie des Als-Ob. Vaihinger mengemukakan, bahwa manusia hidup dengan berbagai macam cita-cita atau pikiran yang semata-mata bersifat semu, tidak ada kenyataannya atau pasangannya di dalam dunia realitas.

  1. Dua dorongan pokok

1)      Dorongan kemasyarakatan, yaitu dorongan yang mendorong manusia untuk bertindak yang mengabdi kepada masyarakat.

2)      Dorongan keakuan, yang mendorong manusia untuk bertindak yang mengabdi kepada aku sendiri.

  1. Rasa rendah diri dan kompensasi
  2. 4. Arti Individual Psychologie

Individual psychologie mempunyai arti penting sebagai cara untuk memahami sesama manusia.

  1. Aliran ini menghendaki ditentukannya tujuan-tujuan yang susila, seperti:

1)      Keharusan memikul tanggung jawab,

2)      Keharusan menghadapi kesukaran-kesukaran hidup,

3)      Mengikis dorongan keakuan dan mengembangkan dorongan kemasyarakatan,

4)      Menyelami diri sendiri dan membuka kecenderungan egoistis yang tersembunyi untuk kemudian memberantasnya.

  1. Optimisme dalam bidang pendidikan

Mengenai pengaruh pendidikan aliran ini berpandangan optimistis.


BAB III

PENUTUP

  1. A. KESIMPULAN
    1. Psikologi kepribadian betujuan untuk mengenal sesama manusia baik sifatnya maupun tipe kepribadian masing-masing.
    2. Saling berhubungan antara konstitusi dan temperament baik jasmani maupun spkiatris.
    3. Mengikis dorongan keakuran dan mengembangkan dorongan kecenderungan egoistis yang tersembunyi untuk kemudian memberantasnya.
  2. B. SARAN

Dengan adanya makalah ini diharapkan pembaca dapat memahami tentang kepribadian baik yang dimiliki pembaca itu sendiri maupun kepribadia yang dimiliki oarng lain yang ada disekitarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Suryabrata, Sumadi. 2007. Psikologi Kepribadian.Jakarta: Raja Grafindo

Allport, G.W. Personality: a Psychologycal Interpretation. New York. Henry Holt, 1937.

Adler, A. Understanding Human Nature (Terj. Beram Walfe) New. York: Permabook-Greenberg, 1949.

Brand, H. The Study of Personality. New York: John Wiley & Sons, 1954.

Hall, C.S. & Lindzey, G Theories of Personality New York: John Wiley & Sons, 1957.

Jacobi, J. De Psychologie Van C.G. Jung (terj. : M. Drukker) Amsterdam-Antwerpen: Contact, 1951.

Janse de Jonge, A.L. Karakterkunde, Baarn: Bosch & Keuning, 1949.
Roback, A.A. The Psychology Of Character. London: Routledge & kegan Paul, 1952.

Rumke, H.C. Inleading tot de Karakterkunde Haarlem: de Erven F. Bohn, 1951.

Sheldon, W.H. The Varieties Of Human Physique: an introcdution to constitutional psychology, New york: Harper, 1942.

Sheldon, W.H. The Varieties Of Temperament: a Psychology of Constutional Difference. New York : Harper, 1942.

Spranger, E. Lebensformen. Leipzig: 1925.

http://makalahkumakalahmu.wordpress.com/2008/09/13/makalah-psikologi-tentang-sifat-sifat-kepribadian-manusia/

http://edwaneloenks.blogspot.com/2009/12/makalah-psikologi-tentang-psikologi.html

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s